Headlines :
Home » » Perajin Alas Kaki 'Terinjak' Sepatu Cina

Perajin Alas Kaki 'Terinjak' Sepatu Cina

Written By Satu Jurnal on Minggu, 17 Maret 2013 | 11.48

Foto ilustrasi (doc.istimewa)

PERAJIN ALAS KAKI atau sepatu di Kota Mojokerto kian hari kian didera kegamangan soal pemasaran. Sebagian besar perajin jenis ini mengeluhkan sepinya pasar. Salah satu penyebab lesunya pemasaran sepatu menurut beberapa perajin sepatu di sentra sepatu Surodinawan, yakni  membanjirnya sepatu produk Cina yang dijual dengan harga jauh lebih murah dari harga sepatu lokal. Mereka menyebut, kondisi para perajin sepatu Mojokerto benar-benar terinjak oleh sepatu negara tirai bambu itu.
Samsul, perajin sepatu Desa Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon  mengatakan, kondisi persepatuan Mojokerto  serbasalah. Tak memproduksi, tak ada yang harus mereka kerjakan untuk kelangsungan usaha. Namun kalau pun ‘dipaksakan’ memproduksi, pemasukannya sangat minim. “Dua tiga tahun lalu kami bisa mendapatkan untung yang cukup lumayan, namun sekarang kondisinya sangat jauh berbeda. Apalagi sepatu produk Cina sudah merambah Mojokerto,” imbuh Samsul.
Ia menilai, kondisi persepatuan Mojokerto sebenarnya tidaklah terlalu parah jika pemerintah berkomitment untuk melindungi produksi dalam negeri, khususnya yang menyangkut usaha kecil menengah (UKM). “Kalau pemerintah benar-benar ingin melindungi para perajin sepatu, seharusnya tidak menelurkan kebijakan impor sepatu Cina yang jelas-jelas telah memporakporandakan pasar sepatu lokal,” kata Samsul berharap.
Sejauh pengamatan satujurnal.com, serbuan sepatu produk Cina di sejumlah toko sepatu di kawasan pertokoan Jalan Mojopahit, Kota Mojokerto sangat intent. Hampir tiap toko menyandingkan produk-produk lokal buatan Mojokerto dengan produk Cina. Lantaran sepatu produk Cina dengan kwalitas yang tak jauh beda dengan sepatu produk Mojokerto dijual jauh lebih murah, tak ayal produk sepatu produk Mojokerto tak mampu bersaing. Sepatu produk Cina dijual dengan harga Rp 30 ribu - Rp 40 ribu per pasang. Sementara sepatu produk Mojokerto dijual dengan harga antara Rp 60 ribu - Rp. 80 ribu per pasang atau rata-rata dua kali lebih mahal.
Wijoyo. salah seorang pemilik toko sepatu di Jalan Mojopahit mengaku bahwa penjualan sepatu produk Cina lebih tinggi dari produk sepatu Mojokerto. “ Pembeli lebih memilih sepatu produk Cina karena kualitas tak kalah dengan lokal, namun harganya jauh lebih murah dari produk lokal,” ungkap Wijoyo.
Sugeng,  pemilik kios di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto beralasan untuk berdagang sepatu produk Cina, karena produk tersebut kini paling laku dan diminati masyarakat. “Sekarang sepatu produk Cina banyak dilirik pembeli daripada produk sini (Mojokerto –red),” kata Anang seraya mengatakan murahnya harga sepatu produk Cina tak terkejar oleh sepatu produk lokal Mojokerto.
Wakil Ketua Bidang Investasi, Perhubungan, Informasi dan Telekomunikasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Mojokerto, J. Enang Soetarato mengungkapkan,  kelesuan sepatu produk Kota Mojokerto disebabkan banyak faktor. Disamping derasnya sepatu produk Cina, daya beli masyarakat juga sangat mempengaruhi perkembangan sepatu produk lokal. Sebenarnyam, untuk mengatrol agar sepatu produk lokal mampu bersaing dengan sepatu produk luar negeri, khususnya  produk Cina, pemerintah telah banyak menggulirkan program-program pelatihan teknik dan manajemen untuk pelaku usaha itu. 

“Secara praktis Diskoperindag terus berupaya agar iklim persepatuan di Kota Mojokerto kembali bergairah ditengah booming sepatu produk Cina. Diantaranya dengan upaya ekspansi produk ke luar pulau, seperti ke Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pulau lainnya di Indonesia,” kata Enang.
Namun, agar persepatuan Kota Mojokerto lebih terdongkrak di kancah regional dan nasional, Kadin membuat terobosan bertajuk B to B (Bisnis to Bisnis) melalui ekspo produk unggulan di berbagai daerah di Nusantara. “Kadin mempertemukan pengusaha dengan pengusaha untuk urusan transaksi produk sepatu. Dari sisi bisnis dan pemasaran, model ini lebih efektif dan optimal. Sepatu Kota Mojokerto yang secara kualitas relatif bagus ternyata menjadi primadona,” kata mantan Kepala Balitbang Kota Mojokerto tersebut. (one)

Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved