Headlines :
Home » , » Respon Lambat, Pedagang Terpaksa Dirikan Lapak Darurat

Respon Lambat, Pedagang Terpaksa Dirikan Lapak Darurat

Written By Satu Jurnal on Senin, 03 November 2014 | 22.16



Nasib Pedagang Pasca Kebakaran Pasar Loak Cakarayam


WARNA HITAM dan abu-abu pekat dari serpihan logam yang hangus terbakar masih bisa ditemui di area Pasar Loak Cakarayam, Mentikan, Kota Mojokerto. Onggokan barang-barang bekas yang tak lagi bernilai ekonomis itu tampak tercecer di area yang luluh lantak akibat amukan si jago merah dalam insiden kebakaran 9 Oktober 2014 lalu.

Pemandangan itu rupanya sesuram nasib 32 pedagang barang bekas yang sebelumnya menggantangkan periuk rumahtangganya di lahan bekas pasar sapi ini. Mereka, para pedagang onderdil bekas dan penjual jasa pengecatan sepeda angin dan sepeda motor mengaku mulai lelah menunggu janji pemerintah setempat. Janji menyegerakan pembangunan penampungan sementara yang ditebar walikota kala menengok kondisi 80 bedak di tiga lajur di area yang berhimpitan dengan SDN Mentikan IV, sehari pasca kebakaran tak kunjung terealisasi.  

Dihadapan para pedagang, saat itu Walikota Mas’ud Yunus, orang nomor satu di kota mungil dengan wilayah dua kecamatan ini menjanjikan secepatnya membangun penampungan sementara.

Sontak, mata para pedagang pun berbinar. Apalagi, dijanjikan tak lebih sepekan, penampungan sementara itu diwujudkan dan bisa langsung dimanfaatkan pedagang.

Namun, sepekan dua pekan ditunggu, tak tampak tanda-tanda pembangunan penampungan sementara yang dijanjikan digarap di badan jalan depan area yang terbakar.

Lelah menunggu janji, beberapa pedagang pun mulai menggeliat. Mereka mengambil langkah sendiri. Mendirikan lapak-lapak darurat diatas area yang terbakar. Tak kurang dari sepuluh lapak ala kadarnya kini tampak berdiri di beberapa sudut.

Lapak darurat itu cermin betapa mereka harus memaksakan roda ekonomi di area ini berputar, meski harus merangkak dari titik nol. Mereka memilih untuk bertahan di area lawas, karena kabar penampungan sementara itu lamat-lamat hilang.

“Beberapa hari setelah kebakaran kita sempat dikumpulkan di kantor Kelurahan Mentikan. Oleh pak lurah dan kepala pasar disampaikan kalau Pemkot segera membangun penampungan sementara di badan jalan depan area ini. Tapi sekarang kabar itu tidak ada lagi,” ujar Kasiati, pedagang besi tua, pemilik 5 bedak yang terbakar, Senin (3/11/2014).

Bukan hanya janji pembangunan penampungan sementara yang didengar pedagang, ujar perempuan tua yang akrab disapa bu Sunarto ini, sempat juga disampaikan akan ada bantuan uang tunai dari Pemkot. “Kalau tidak salah dijanjikan diberi bantuan uang tunai lima juta rupiah,” ucapnya lirih.

Kegerahan para pedagang diluapkan tatkala bersua dengan mantri pasar yang setiap hari menarik retribusi di area lainnya di pasar yang terpetak menjadi beberapa bagian ini. “Pak mantri pasar pilih tidak menampakkan muka dihadapan pedagang daripada terkena getah. Pernah sekali mantri pasar ke lokasi, begitu ditanya kabar penampungan sementara dibangun, malah bersingsut,” kata bu Sunarto tanpa bermaksud berkelakar.

Nunung, salah satu pedagang onderdil berujar tak beda dengan bu Sunarto. “Ya kalau belum sanggup, ya jangan beri angin sorga,” sindir dia.

Yang pasti, tatkala disinggung soal wacana yang berkembang di kantor Pemkot, jika mereka akan direlokasi di kawasan Pasar Hewan, Pasar Pon Sekarputih, mereka serempak geleng kepala. (one)
Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved