Headlines :
Home » » Upaya Walikota Dongkrak Pariwisata: Setelah Sate Massal, Kini Gelar Kenduri Maulid 2015 Layah

Upaya Walikota Dongkrak Pariwisata: Setelah Sate Massal, Kini Gelar Kenduri Maulid 2015 Layah

Written By Satu Jurnal on Jumat, 16 Januari 2015 | 04.30



Walikota Mas'ud Yunus

DERET hitung bertajuk agenda tahunan terus memanjang dalam kegiatan Pemerintah Kota Mojokerto. Dari tradisi lokal, tradisi bernuansa sinkritis hingga ikon baru untuk mendongkrak citra wisata di kota mungil dengan dua kecamatan ini terus digali Walikota Mas’ud Yunus. Setelah mengusung pesta sate massal di momen Idul Adha, kini birokrat berlatarbelakang ulama ini bakal menghelat ‘Kenduri Maulid  2015 Layah' , memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Maulid atau dalam leksikon wong Mojokerto akrab disebut muludan akan diperingati secara besar-besaran dengan melibatkan sedikitnya 7.000 orang, hari Minggu, 18 Januari 2015, di Lapangan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.

Layah, gerabah dari tanah liat yang acap difungsikan sebagai wadah penghalus aneka bumbu dapur diekspresikan secara kultural sebagai simbol perekat. Ini lantaran dalam tradisi muludan di kalangan muslim Kota Mojokerto tak lepas dari layah. Kala Muludan berlangsung, laya dijadikan penampung aneka penganan yang disuguhkan diantara prosesi memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Layah, ujar Mas’ud Yunus, dalam tradisi muslim di banyak daerah, dijadikan wadah menu untuk disantap bareng. Tatkala sekelompok orang makan bersama dengan satu layah, maka kebersamaan, kerukunan menjadi melekat. “Makna filosofinya, layah merupakan perekat, kerukunan, simbol kegotongroyongan. Tradisi ‘Layah’ Ini yang harus kita pertahankan dan lestarikan dalam tradisi Muludan agar menjadi sarana ukhuwah dan semangat untuk saling berbagi ,” ujar pria yang lebih populer disapa Kyai Ud tersebut.

Jumlah 2015 layah berisi nasi kuning dan nasi gurih menandai tahun Masehi yang sedang berjalan, kendati pun dalam tradisi Islam, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengacu pada bulan Rabi’ul Awal dalam kalender Hijriyah. Benang merah yang ditarik, bahwa kegiatan ini bukan sekedar memperingati ‘hari’ kelahiran Nabi Muhammad SAW, namun juga berkenaan dengan eksistensi Nabi Muhammad SAW dan pengaruhnya dalam peradaban dunia setelah beliau wafat.

 “Saya ingin menghidupkan budaya Islam nusantara di Kota Mojokerto. Siapa lagi yang melestarikan budaya Islam nusantara kalau tidak dimulai dari kita sendiri. Saya harap acara ini nantinya juga menjadi acara tahunan yang menarik wisatawan ke Kota Mojokerto,” ucapnya.

Yang terlibat dalam helatan akbar ini, kata Kyai Ud, dari unsur Forpimda Kota Mojokerto, Jamaah Al Ummahat, FKMT, kepala sekolah, pelajar, SKPD, RT, RW, organisasi Islam dan Masyarakat se-Kota Mojokerto. Ribuan peserta ini diwajibkan untuk berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang itu membawa sebuah layah berisi tumpeng nasi kuning.

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikolaborasikan dengan tradisi setempat,kenduri massal yang dikemas apik dan inovatif tanpa menanggalkan nuansa religius ini, ujar Kyai Ud, tak lain untuk menarik hikmah keteladanan sang Nabi. 

Kegiatan kemanusiaan donor darah pun diusung dalam rangkaian kegiatan yang dijadwal mulai pukul 08.00 WIB tersebut. 

“Peserta dan undangan yang datang juga saya wajibkan membawa tas plastik atau kresek untuk tempat sampah. Ini penting. Karena saya ingin nanti setelah acara, masing-masing peserta punya tanggung jawab dalam kebersihan lingkungan,” terangnya. (one)
Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved