Headlines :
Home » » Terpencil, Siswa dan Guru Berjibaku dengan Lumpur Masuk Hutan hingga Menyusuri Sungai

Terpencil, Siswa dan Guru Berjibaku dengan Lumpur Masuk Hutan hingga Menyusuri Sungai

Written By Satu Jurnal on Selasa, 08 Maret 2016 | 21.14

Jombang-(satujurnal.com)
Demi menuntut ilmu sejumlah bocah yang tinggal di kawasan hutan perbatasan Jombang – Nganjuk rela menyeberangi sungai untuk bisa sampai di sekolah. Mereka terpaksa menyusuri aliran sungai yang deras karena tidak ada alternatif jalan lain dan terkadang mereka tidak bersekolah apabila kondisi sungai banjir besar.

Tak hanya siswa para guru pun melakukan hal serupa yakni keluar masuk hutan  menyusuri jalan berlumpur dan derasnya arus sungai.

Meskipun tak sepadan dengan gaji yang diterima dan semuanya itu dilakukan dengan ikhlas demi mencerdaskan anak bangsa.

Mereka, bocah SDN 3 Dusun Nampu Desa Pojok Klitih Kecamatan Plandaan, Jombang ini rela menyeberangi sungai hanya demi belajar di sekolah,

Tidak adanya fasilitas infrastruktur di kawasan tersebut membuat mereka terpaksa menyusuri aliran sungai yang cukup deras setiap hari.

Dengan berjalan bersama-sama para bocah yang tinggal di kawasan perbatasan Jombang dengan Kabupaten Nganjuk ini tampak bersemangat menyusuri sungai dengan melewati semak-semak belukar.

Sejumlah siswa mengaku setiap hari menyusuri sungai untuk menuju sekolah. bahkan dari sejak bersekolah hingga kelas enam SD,kondisi tersebut masih sama.

Terkadang, ketika air sungai meluap para siswa ini memilih tak bersekolah karena takut hanyut. Mereka berharap agar pemerintah membangunkan sebuah jembatan untuk memudahkan akses menuju sekolah demi menuntut ilmu.

Kondisi yang dialami para siswa dengan menempuh medan berat juga dialami para tenaga pendidik. Para guru juga berjibaku dengan lumpur masuk hutan dan melintasi derasnya arus sungai untuk menuju sekolah.

Salah seorang guru yang masih berstatus honorer selama 11 tahun ini mengaku rela dibayar Rp 200 ribu demi memberikan pendidikan kepada anak anak di sekolah terpencil tersebut.

Menyusuri medan berat ini dilakukan para guru selama belasan tahun. Yang terparah di tahun 2010 selama satu tahun penuh berjalan kaki karena kondisi medan yang berat. Semua itu dilakukan para guru dengan ikhlas demi mencerdaskan anak bangsa.


Tak cukup sampai disitu, SDN Pojok Klitih 3 ini hanya terdapat 16 orang siswa. Sedangkan untuk ruang kelas hanya ada tiga dan disekat menjadi dua untuk belajar mengajar. Bahkan jenjang kelasnya hanya ada lima yakni kelas I, II, IV, V, dan VI, sedangkan kelas III tidak ada siswanya sama sekali.(rg)
Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved