Headlines :
Home » » Tempati Bangunan Bekas Dapur, Ini Protret Keluarga Reyang

Tempati Bangunan Bekas Dapur, Ini Protret Keluarga Reyang

Written By Satu Jurnal on Kamis, 28 Juli 2016 | 22.04

KELUARGA Reyang Permana, bocah kelas VI SD, warga Desa Sumber, Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang yang sehari-hari bekerja menjual jasa lap sepeda motor di sebuah apotik di Jombang benar-benar dibawah garis kemiskinan.

Bangunan bekas dapur yang disulap jadi hunian keluarga Suparno, ayah Reyang, memang tak layak disebut sebuah rumah. Namun, bagi keluarga dengan lima anak ini, bangunan ini bak penyelamat dari terpahan panas dan hujan. Tempat berteduh dan berkumpulnya keluarga. Tak ada perabot yang bisa dinilai layak, kecuali peralatan dapur dan buku-buku sekolah yang menyeruak di bangunan kecil berukuran delapan meter persegi itu.

Suparno yang tidak memiliki pekerjaan tetap, kadangkala mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan. Namun yang lebih sering, ia mengais rejeki sebagai pengamen jalanan. Jika Reyang terpacu untuk mencari uang selepas sekolah, itu lantaran ia merasa sudah harus menjadi tulang punggung keluarga.

Anik Nur Solikah, ibu Reyang mengaku hanya bisa pasrah. Tak banyak yang bisa ia perbuat, kecuali menjaga anak-anaknya. Ia mengaku bersyukur memilik Reyang. Dimatanya, Reyang adalah anak yang berbakti pada orang tua. Begitu menyayangi keluarganya. Ia rela menukar waktu bermainnya demi mendapatkan rupiah untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Reyang disebutnya anak yang disiplin dalam hal waktu. Di pagi buta Reyang sudah bangun lebih dahulu daripada adik-adiknya. Sebelum berangkat sekolah, ia sudah membereskan pekerjaan rumah. Dan selepas sekolah, sekitar pukul tiga sore ia mengayuh lepas sepeda angin menuju tempat ia mencari rejeki di emper apotik, tepat di belakang rumah sakit megah milik pemerintah daerah Kabupaten Jombang. Sekitar pukul sepuluh malam ia sudah beringsut pulang. Di rumah, ia tidak langsung merebahkan badan, namun belajar.

Reyang benar-benar menjadi tumpuhan hidup keluarganya. Karena, meski keluarga ini hidup dibawah garis kemiskinan, namun program-program pengentasan kemiskinan yang digencarkan pemerintah tak menyentuh mereka. Suparno mengaku keluarganya tak sekali pun menikmati bantuan rutin yang dikucurkan pemerintah, seperti halnya PKH (Program Keluarga Harapan). Juga KIP (Kartu Indonesia Pintar) untuk kelima anaknya.

Sayangnya, pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Jombang belum tahu soal kondisi keluarga yang layak mendapat bantuan pemerintah ini. (rg)



Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved