Headlines :
Home » » Mbah Sijah, Mengais Buliran Padi Sisa Panen Demi Bertahan Hidup

Mbah Sijah, Mengais Buliran Padi Sisa Panen Demi Bertahan Hidup

Written By Satu Jurnal on Kamis, 11 Agustus 2016 | 18.54

Jombang- (satujurnal.com)
“Sejahtera untuk Semua" yang dijadikan slogan Kabupaten Jombang bisa jadi hanya isapan jempol belaka. Bagaimana tidak, masih banyak warga Kota Santri yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan, ada diantara mereka yang harus mengais butiran padi sisa panen hanya untuk bertahan hidup.

Seperti yang dilakoni kakak beradik Mbah Sijah, (70) dan Mbah Wiji (65) asal, Dusun Karangasem, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang ini.

Di usia senjanya, Mbah Sijah, nenek renta ini terpaksa membanting tulang demi bertahan hidup dengan sang adikny, Mbah Wiji penyandang tuna netra.

Seperti yang dilakukan Mbah Sijah pagi tadi, ia terlihat sibuk di dapur rumah bambu itu. Badan yang tak tegap lagi itu, menjinjing setali ranting kayu kering dari samping rumah. Ya, mbah Sijah harus memasak untuk mengganjal perutnya yang mulai kerocongan.

Secangkir menir (patahan beras) diambil mbah Sijah dari dalam gentong berbahan tanah liat itu.

Tangan keriput itu satu persatu menjumput butiran yang tersisa di dalam gentong. Baginya, satu butir padi itu sangat berarti untuk membuatnya bertahan hidup.

"Adik saya buta, tidak bisa apa-apa, jadi mau tidak mau saya yang harus membuat makan setiap hari," tutur Mbah Sijah.
Ia berujar, semenjak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, Mbah Sijah hanya hidup berdua dengan Bbah Wiji. Maklum, selama hidup, mbah Wiji tidak pernah menikah. Sebab, kedua mata Mbah Wiji memang sudah mengalami kebutaan sejak kecil.

"Saya punya dua anak sebenarnya, satu laki-laki sekarang di Surabaya, sedangkan yang perempuan tinggal di Ponorogo. Jarang pulang, kadang lima bulan baru pulang,” tuturnya.

Selama ini, Mbah Sijah dan adiknya hanya makan seadanya. Jika beras jatah bantuan yang diterimanya habis, keduanya terpaksa makan sayur-sayuran rebus yang diambilnya dari pekarangan rumah. Atau menunggu belas kasih dari tetangga.

"Kalau musim panen, saya ke sawah. Ngasak (ngais) gabah sisa orang panen itu. Nanti kalau banyak terus di gilingkan jadi menir seperti ini. Kalau sudah habis, ya makan seadanya saja, yang penting makan," terangnya.

Sungguh ironis memang. Kondisi Mbah Sijah dan Mbah Wiji yang hidup dibawah garis kemiskinan ini minim perhatian dari pemkab Jombang.

Setiap bulan, keduanya hanya menerima bantuan beras untuk warga miskin (Raskin) sebanyak 15 kilogram.

Tak heran jika beberapa waktu lalu banyak netizen yang menggunjing saat istri bupati dan para pejabat teras plesir ke Jakarta. Parahnya lagi, kegiatan itu menggunakan dana APBD Jombang. Sementara untuk ratusan ibu-ibu PKK lainnya menggunakan dana APBDes yang diambilkan dari Dana Desa (DD) yang dikucurkan Kementrian Desa Transmigrasi dan lDaerah Tertinggal.

"Kalau kegiatan itu menggunakan uang pribadi ya tidak masalah, tapi kalau itu menggunakan uang rakyat ya saya sangat keberatan. Lebih baik itu digunakan untuk membantu warga miskin, seperti Mbah Sijah ini," ungkap Seger, Ketua Rt 01/04 Dusun Karangasem, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang.

Seger berharap, ada bantuan rutin yang diberikan pemkab Jombang kepada mbah Sijah dan mbah Wiji itu. Mengingat kondisi keduanya yang sudah tua renta namun masih harus banting tulang hanya untuk bertahan hidup.

"Kalau bisa ada tambahan bantuan untuk kedua warga saya ini. Minimal, untuk kebutuhan makan setiap harinya. Karena anaknya juga jarang pulang," tandasnya. (rg)


Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved