Headlines :
Home » » Kejar Target Penyerapan, Bulog Bentuk Satgas Deteksi Kantong Produksi Gabah Petani

Kejar Target Penyerapan, Bulog Bentuk Satgas Deteksi Kantong Produksi Gabah Petani

Written By Satu Jurnal on Jumat, 14 Oktober 2016 | 18.42

Norman Susilo
Mojokerto-(satujurnal.com)
Pengaruh anomali cuaca dan sikap petani yang melempar gabah ke pihak swasta mendorong Bulog Sub Divre Surabaya Selatan yang membawahi wilayah Kota/Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang membentuk satuan tugas (satgas).

Empat satgas dibentuk untuk mendeteksi kantong-kantong produksi petani yang masih memiliki stok gabah. Ini agar laju penurunan angka penyerapan yang tembus 10 persen dari target bisa direm.

“Satgas Bulog bertugas mencari kantong-kantong produksi dimana petani masih menyimpan gabah kering dan (gabah) basah,” kata Kabulog Sub Divre Surabaya Selatan, Norman Susilo, Jum’at, (14/10/2016).

Jurus bentuk satgas itu rupanya cukup efektif. Sehingga Norman pun mengaku optimis akan pemenuhan target penyerapan 33 ribu ton beras untuk gudang Mojokerto.

“Kita optimis, target penyerapan beras untuk wilayah Mojokerto sebesar 33 ton tercapai,” katanya.

Hingga bulan Oktober ini, penyerapan beras sudah tembus 60 persen. Sementara per hari, beras yang masuk masuk di gudang Bulog Mojokerto, menurut Norman, antara 100 ton – 150 ton.

Soal penurunan penyerapan hingga 10 persen itu, kata Norman, kendalanya pada cuaca yang berujung pada molornya waktu dan membengkanya biaya. Ditambah lagi dengan pengeringan dan penggilingan yang masih mengandalkan matahari. Sehingga penyerapan agak sedikit berkurang.

Selain faktor cuaca, para petani kini banyak yang beralih melepas gabah mereka ke pihak swasta.

Harga pembelian dari swasta yang relatif lebih tinggi juga menyebabkan tingkat penyerapan berkurang.

“Untuk saat ini dengan harga rata-rata ditingkat petani diatas Rp 4000 perkilogram untuk gabah basah, beras diatas Rp 7500 sampai  Rp 7600 perkilogram, petani memilih menjual ke swasta. Tapi  masih ada yang loyal untuk bulog, walau keuntungan mereka minim,” sergahnya.

Harga swasta itu, lanjut Norman, diatas harga patokan pemerintah. Gabah kering panen dihargai Rp 3700 perkilogram dengan kualitas kadar air 25 persen dan kotoran 10 persen. Gabah kering giling Rp 4650 perkilogram dengan kadar air 14 persen dan kotoran 3 persen. Sedangkan beras dipatok Rp 7300 perkilogram dengan kualitas kadar air 14 persen, derajat sosog 95 persen, butir patah 20 persen dan menir 2 persen. (one)


Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved