Headlines :
Home » » Demi US, Siswa Dua SDN Terpencil di Jombang Ini Terpaksa Numpang Tidur di Rumah Warga

Demi US, Siswa Dua SDN Terpencil di Jombang Ini Terpaksa Numpang Tidur di Rumah Warga

Written By Satu Jurnal on Selasa, 16 Mei 2017 | 19.53


Jombang-(satujurnal.com)
Dua sekolah, SDN Pojok Klitih 2 dan SDN Pojok Klitih 3, di desa/kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang tidak dapat menggelar ujian nasional atau ujian sekolah (US) secara mandiri. Setiap kali ujian nasional berlangsung, dua sekolah terpencil ini bergabung dengan sekolah lain. 

Selain distribusi soal tidak bisa tembus ke sekolah mereka, faktor alam juga menjadi penyebab utama ujian para siswa dipindah di sekolah lain. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak sekolah mereka berdiri tiga puluh  tahun silam. 

Imbasnya, siswa kelas VI dua sekolah itu pun terpaksa harus numpang tidur di rumah penduduk di sekitar sekolah yang menggelar ujian akhir sekolah tempat mereka bergabung. 

Cara numpang tidur ini harus mereka pilih agar tidak terlambat mengikuti US, karena jarak tempuh rumah mereka dengan lokasi US relatif jauh. 

Setidaknya mereka numpang tidur selama US berlangsung. 

Selain membawa bekal buku seragam dan sejumlah keperluan sekolah, diantara mereka juga ada yang membawa beras untuk keperluan makan selama empat hari jadwal ujian .
 
Meski ada yang tidak kerasan karena tempat yang ia tinggali cukup asing, namun semangat mereka tak pupus hanya demi ikut ujian nasional.
 
Ditambah lagi dukungan warga sekitar desa menambah semangat tersendiri bagi mereka agar mereka tetap bisa nyaman dalam menghadapi US.
 
Zuliti, salah satu warga mengatakan selain harus menginap, 8 siswa dari dua sekolah berbeda ini juga sering berangkat bersama-sama untuk sampai disekolah, 

"Para siswa mengaku jika mereka tidak menginap mereka  tidak  bisa ikut ujian. Alasannya, jarak rumah dan tempat ujian  cukup jauh sehingga mereka  terpaksa mencari tempat tinggal sementara.

Wanasis, kepala SDN 2 Pojok Klitih mengatakan siswa mereka terpaksa menginap di rumah warga yang berdekatan dengan lokasi US agar lebih fokus menghadapi US. 

"Setiap kali ujian nasional ya begini kondisinya. Dan ini kita lakoni sejak 30 tahun lalu," katanya, Selasa (16/5/2017).

Wanasis mengaku, pihaknya tidak bisa berbuat banyak agar sekolah bisa menggelar US sendiri. 

"Distribusi naskah soal ujian sulit terjangkau sampai ke sekolah kami," tukasnya. (rg)
Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved