Headlines :
Home » » IPWL Masih Enggan Tangani Perempuan Korban Narkoba, Khofifah : Karena Lebih Beresiko

IPWL Masih Enggan Tangani Perempuan Korban Narkoba, Khofifah : Karena Lebih Beresiko

Written By Satu Jurnal on Sabtu, 15 Juli 2017 | 18.59


Mojokerto-(satujurnal.com)
Minimnya panti rehabilitasi dan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang bersedia menangani perempuan korban penyalagunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya menyulut keprihatinan tersendiri bagi Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Ribet dan butuh penanganan ekstra dibanding menangani laki-laki korban menjadi alasan penolakan panti untuk merehabilitasi perempuan korban narkotika. 

Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU mengutarakan hal itu usai mengukuhkan personalia Laskar Antinarkoba Muslimat NU Kota Mojokerto dalam rangksian peringatan Harla Muslimat NU ke-71 di rumah dinas Walikota Mojokerto, jalan Hayamwuruk, Sabtu (15/7/2017).

"Saya sudah keliling ke IPWL di banyak. Cukup banyak IPWL menyatakan belum siap dan merasa bahwa klien perempuan itu memang lebih berisiko dari pada klien laki-laki. Energi gak nutut, butuh extra efford," ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Gus Dur tersebut. 

Dari 160 IPWL, lanjut Khofifah, hanya sekitar 12 IPWL yang bersedia menerima perempuan korban Narkotika. "Salah satunya Pesantren Inabah di Tasikmalaya bisa menerima klien perempuan," ujarnya. 

Ia pun berharap agar muslimat NU berperan sebagai bagian dari penguat perempuan dalam menangkal narkoba.

"Kepekaan keluarga menjadi hal yang urgen. Lakukan identifikasi terhadap anggota keluarga dengan  mengenali ciri-ciri korban narkoba. Kepekaan ini penting," pesan dia.

Dikatakan, jumlah panti rehabilitasi masih jauh dari ideal untuk menangani korban narkotika yang secara nasional sudah tembus 5,9 juta jiwa. 

"Yang bisa dilakukan panti, yakni dengan cara rawat inap dan rawat jalan untuk rehabilitasi narkoba," imbuhnya.

Selain itu model penjangkauan diakuinya cukup efektif. "Dalam model penjangkauan, korban tetap menjalankan aktivitasnya. Bagi pekerja ya tetap bekerja, begitu pula bagi mahasiswa maupun siswa. Mereka baru menjalani rehabilitasi usai beraktivitas rutin," paparnya.

Menurut Khofifah, tahun 2016 APBN menopang 15.600 jiwa untuk penjangkauan. Namun tersentuh 21.000 jiwa, jauh diatas target. "Tahun 2017 APBN menopang 15.900 jiwa untuk penjangkauan. Insya Allah akan juga diatas target," ujarnya. 

Selain itu, ia berharap peringatan Harla ke-71 Muslimat NU di Kota Mojokerto yang dihadiri Kepala Bappeko Kota Mojokerto, Harlistyati dan Kepala Dinsos Kota Mojokerto, Sri Mujiwati serta jajaran pengurus dan ratusan anggota Muslimat NU tersebut dijadikan momentum yang tepat untuk mendorong perempuan secara bersama-sama menangkal peredaran narkoba. (one)




 
Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved