copy dan paste berita, dengarkan disini!


 

GRATIS langganan via e-mail

TERJULUR OMBAK DI TEPIAN KARANG ( Kisah Nahkoda, Dalam Sebuah Renungan )

Oleh : Choirul Anwar

Kristal beku telah menggantung rendah diatas perahu layar yang kutumpangi. Titik - titiknya menyerap pancaran cahaya hingga menggeser warna awan menjadi kelam gelap. Ia terus menyelimuti lautan yang membentang disekitar perahu. Mengepung  perjalanan sebelum berlabuh ditempat peristirahatan.

Sementara perjalanan menuju ke pulau Damai nun jauh disana masih membutuhkan waktu semusim lagi. Sebuah tempat yang menjadi impian bagi nahkoda agar para penumpangnya dapat hidup lebih baik daripada tempat huni sebelumnya.

Cita - cita ini mendorong sang nakhoda untuk terus melaju menggerakkan perahunya dengan penuh hati-hati. Ia mengendalikannya sesuai dengan sistem operasi baku. Nahkoda sangat disiplin menjaga ketertiban berlalulintas dalam menyusuri lautan menuju pulau itu.

Harapannya, perahu ini dapat berjalan lancar tanpa suatu halangan apapun hingga dapat berlabuh dengan selamat sampai tujuan. Para penumpang dapat hidup aman, tenteram dan damai. Segala fasilitas pelayanan yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Baldatun,  toyyibatun,  wa robbun ghofur.

Hampir semusim sudah kususuri perjalanan ini. Mengarungi lautan yang membentang luas dalam suasana suka dan duka.

Kadangkala kita menikmati panorama indah alam semesta. Bila malam tiba terlihat bulan purnama dikelilingi bintang bintang yang bertebaran menghiasi angkasa. Tak kalah, tatkala fajar tiba bintang kejora juga tampak menyingsing seperti untaian anggur putih yang sedang berbunga. Pun disiang hari terlihat jelas air laut menderukan gemuruhnya  mengombak menggelombang ke arah tepian pantai. Oh begitu indahnya.

Tetapi disaat yang lain berbagai badai rintangan juga menghadang ditengah perjalanan. Tak sedikit karang-karang terjal yang harus dihindari. Tak jarang harus menerobos angin kencang diantara juluran ombak besar yang mengibaskan selendangnya.

Hawa panas dan dinginnya malampun tak luput mendera  perjalanan dan kadangkala harus karam menyibakkan buih-buih lautan yang memapas pelayaran ini.

Sungguh tak kusangka jika perahu akan kandas di tepian karang yang melintang diambang batas akhir pelayaran pada awal musim ini. Ketika sang Nahkoda terpeleset dan disambut badai ombak besar yang menepiskan pusaran kearah dirinya.

Entah mengapa, salah seorang anak buah perahu bertindak ceroboh dengan melepaskan dayungnya, hingga ia tercebur dan berujung membawa petaka bagi sang nakhoda. Akhirnya sang Nahkodapun jatuh terpelanting  tergulung arus ombak besar yang  bersabung menjulurkan selendangnya.

Melihat kejadian ini, anak buah perahu lainnya menjadi panik.  Mereka ada yang berusaha memutar layar perahu, dan sebagian lainnya berlari dari anjungan menggayuh dan melemparkan busa stereofoam baju pelampung untuk menyelamatkan sang nahkoda.

Namun upaya ini sepertinya sia sia. Bila ternyata  dibawah permukaan air laut telah terpasang ranjau-ranjau yang siap membelenggu sang nahkoda. Didalamnya terdapat beberapa anak buah perahu yang sudah tenggelam. Mereka berusaha meraih kaki nahkoda demi menyelamatkan dirinya.

Tak ada pilihan lain kecuali sang nahkoda harus bersabar dan tawakkal menerima kenyataan getir yang menimpa dirinnya. Ia terseret karam bersama mereka. Terjebak oleh pusaran ombak meski tak  salah arah.

Selama mengendalikan perjalanan, sang nahkoda tak pernah ceroboh bahkan sangat berhati-hati dalam mengarahkan perahunya.  Ia berjalan tak lepas dari kompas penunjuk arah.

Tak hanya itu, untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para penumpang, ia selalu memberikan pelayanan terbaiknya, semua fasilitas yang dibutuhkan dipersiapkannya dengan penuh ketulusan dan kearifan.

Tak ayal jika musibah yang dialami nahkoda ini menyisakan iba yang mendalam dihati mereka. Isak tangispun menjadi pemandangan diatas perahu yang mengapung tak terarah. Tapi mereka tak kuasa, tak bisa berbuat apa apa.  Kecuali hanya bisa menundukkan kepala menengadahkan tangan kehadirat-Nya dan memandang nakhoda dengan mengusap air mata.

Suasana haru kini menyelimuti para penumpang. Namun sang nahkoda tetap tak mau lepas dari senyumnya walau dalam duka. Bahkan ia tak berhenti mewasiatkan kalam - kalam bijak diatas gulungan ombak yang sedang menimpa dirinya.

Dengan tegar ia katakan, bahwa dirinya terpeleset hanyalah lantaran semata. Ia jatuh bukan karena selendang ombak yang menyeretnya dan bukan pula karena badai angin kabut gelap yang menyambar kepala.

Tapi, "ini adalah takdir Alloh, yang harus diterima dengan sabar, tanpa harus berprasangka siapa yang bersalah," begitu ia sampaikan dengan senyum khasnya yang nampak tenang bersahaja.

Perahu terus tergerak kearah samping dan berputar,  terayun oleh dahsyatnya jebakan badai ombak yang sedang menggulung. Sementara diatas kepala, prahara menghempaskan kabut kelamnya kearah perahu yang sedang menyisir mendekati sang nahkoda.

Panik, pilu dan pedih larut bersama badai angin dan petir yang menyambarkan apinya. Hentakan suaranya terus mengiringi kilatan, merambat dalam pantulan medium udara pekat, hingga memekakkan telinga.

Dalam kondisi seperti ini, ternyata tak semuanya sepakat berusaha menolongnya. Masih tersisa diantara mereka yang bersorak diatas duka, meski hanya segelintir orang. Ada yang menampakkan kebenciannya. Ada pula yang bersandiwara.

Tetapi hal ini sangat dimaklumi oleh sang nahkoda. Sudah menjadi suratan dari-Nya, bahwa ada siang ada malam, ada senang ada sedih, ada cinta ada benci. Semua direngkuhnya dengan penuh kasih sayang tanpa perbedaan.

"Si Anu lah yang menjadi biang keladi hingga menyebabkanmu terpeleset dalam pusaran ombak," celetuk salah seorang penumpang kepada sang nahkoda dengan tiba tiba.

Rupanya Ia tetap tak bisa menerima kenyataan pahit ini. Ia merasakan betapa pedihnya  yang sedang dirasakan oleh sang nahkoda. Harus menerima nasib buruk justru disebabkan ketulusannya. "Ah dunia sudah terbalik," gumamnya dalam hati, seperti meronta tak punya daya.

Namun sang nahkoda malah menepis. "Jangan berprasangka buruk pada siapapun, jangan sampai terjadi sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak mendapatkan dunia,  akhiratnyapun lepas,  kita akan menjadi orang yang merugi," tuturnya lagi.

"Biarlah,  saya akan berusaha sebisa yang saya lakukan. Apa yang akan terjadi, baik dan buruknya adalah datang dari Alloh SWT," lanjut sang nahkoda.

Subhanalloh.  Begitu tabah kau menghadapi musibah ini.

Ayunan badai ombak agak mulai sedikit reda. Perahu  tergerak pelan mengikuti alur gelombang yang semakin tenang. Gelegar suara gunturpun seperti teredam oleh arus angin yang semakin meninggi.

Dengan pelan sang nakhoda masih bisa bertahan. Ia lolos dari jebakan ranjau yang terpasang. Pelepah pinang yang mengambang didekatnya adalah keajaiban yang tak disangka, datang mambawanya kembali ke perahu bersama arus gelombang yang berjalan tenang. Entah sampai kapan.

Kebanyakan dari mereka berharap agar sang nakhoda tetap melanjutkan perjalanan membawa semua penumpangnya berlabuh dengan selamat. Paling tidak sampai akhir musim ini, sebelum pergantian nahkoda pada perjalanan musim berikutnya yang dikhawatirkan akan cenderung berbalik arah menuju ke pulau Seram. (*)

*) Penulis adalah Kabag Humas dan Protokol Pemerintah Kota Mojokerto
uang gratismu ada disini, mulailah menambang cryptocurrency sekarang
Labels: esai

Terima Kasih Telah Membaca TERJULUR OMBAK DI TEPIAN KARANG ( Kisah Nahkoda, Dalam Sebuah Renungan ) . Silahkan Berbagi...!

0 Comment for "TERJULUR OMBAK DI TEPIAN KARANG ( Kisah Nahkoda, Dalam Sebuah Renungan ) "

Back To Top