Headlines :
Home » » Cegah Dini Kriminalitas, Polisi Ringkus Puluhan Preman

Cegah Dini Kriminalitas, Polisi Ringkus Puluhan Preman

Written By Satu Jurnal on Sabtu, 27 Juni 2015 | 23.48

Mojokerto-(satujurnal.com)
Sebanyak 56 preman, anak jalanan (anjal)  dan gelandangan dan pengemis (gepeng) terjaring razia jajaran Polres Mojokerto, Sabtu (27/6/2015). Puluhan preman, anjal dan gepeng ini terjaring razia di sejumlah titik rawan di 14 wilayah polsek. 

Saat penangkapan, sempat terjadi kejar-kejaran terhadap salah satu preman yang mencoba melarikan diri. Namun usaha preman itu gagal. 

Mereka yang tertangkap digiring ke Mapolres Mojokerto untuk didata dan diberi pembinaan. 

Kabag Humas Polres Mojokerto, Iptu Sariyanto mengatakan, razia preman dan gelandangan, selain untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polres Mojokerto, utamanya menghadapi ramadhan dan lebaran, juga untuk meminimalisasi aksi premanisme. 

“Semua titik rawan kami sterilkan agar jauh dari gangguan premanisme,” kata Iptu Sariyanto.

Menurutnya, razia digelar lantaran tingkat kriminalitas biasanya meningkat di bulan ramadhan. “Untuk mengantisipasi hal itu, perlu dilakukan peningkatan pengawasan dan razia preman untuk menekankan pencegahan dini aksi kriminalitas,” imbuhnya.  

Dari puluhan preman, anjal dan gepeng yang terjaring razia di 14 wilayah polsek tersebut, diamankan 11 orang preman yang biasa melakukan pungli di sejumlah kawasan di wilayah Polsek Mojosari. 11 orang preman yang biasa mangkal di tiga titik di wilayah Polsek Gondang digaruk. 

Sementara di wilayah Polsek Dlanggu, 9 pengemis terpaksa digelandang. Selain itu, preman yang acapkali melakukan pungutan liar di terminal baru Pungging, di terminal Trowulan, Pasar Kutorejo, tempat wisata Ubalan dan Padusan Pacet serta pengemis di wilayah Sooko dan Mojoanyar dan pengamen di Pasar Sawahan diamankan jajaran masing-masing polsek. 

“Kita akan terus menggelar razia preman, anjal dan gepeng ini sampai lebaran. Atensinya simpul-simpul rawan tindak kejahatan jalanan, seperti terminal, tempat wisata, pasar atau tempat lain yang diduga menjadi tempat premanisme,” tukas Iptu Sariyanto. (wie)

Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved