Headlines :
Home » » Dewan : Pakaian Khas Daerah 'Batik Rengkik' Terkesan Dipaksakan

Dewan : Pakaian Khas Daerah 'Batik Rengkik' Terkesan Dipaksakan

Written By Satu Jurnal on Jumat, 07 Agustus 2015 | 22.38

Mojokerto-(satujurnal.com)
Pakaian Khas Rakyat Kota Mojokerto (PKRKM) bermotif batik rengkik besutan Pemkot Mojokerto yang diklaim sebagai pakaian daerah khas Kota Mojokerto menuai penilaian minor kalangan Dewan setempat.

Ini terkait janji walikota Mojokerto Mas’ud Yunus yang akan menampung masukan Dewan soal corak batik dan model pakaian khas daerah. 

Pasalnya, di tengah polemik pakaian batik bermotif ikan rengkik yang didominasi warna orange itu, walikota mendadak mengeluarkan Peraturan Walikota (Perwali).

Perwali bernomor 48 tahun 2015 tentang Perubahan atas Perwali Nomor 16 tahun 2014 tentang Pakaian Dinas PNS dan Pejabat di Lingkungan Pemkot Mojokerto itu menyebutkan, PKRKM harus dipakai rutin sejak 1 September nanti.

Pakaian khas kota warna cokelat dan motif mojo, dipakai pada Rabu. Batik rengkik warna orange digunakan pada Kamis kecuali minggu ke IV. Pasalnya, di pekan keempat tiap bulan, seluruh PNS diwajibkan memakai pakaian khas rakyat Mojokerto. 

"Ini yang kami sesalkan. Dari mana pakaian itu disebut khas daerah?,’’ lontar ketua fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Junaedi Malik di DPRD Kota Mojokerto, Jum'at (07/8/2015).

Menurut Juned, sapaan karib Junaidi Malik, perwali yang mengatur kewajiban PNS mengenakan batik rengkik itu terkesan dipaksakan. Karena sejak awal pakaian khas daerah itu disosialisasikan di sejumlah kesempatan formal, banyak anggota dewan yang tak menyetujuinya. Bahkan, FKB secara resmi menyampaikan ketidasetujuan dalam Pandangan Umum Fraksi-Fraksi Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2014 awal Juli lalu. 

’’Karena sudah dibawa ke mana-mana, makanya dipaksakan sekali perwali ini. Namun saya tetap tidak sepakat,’’ ungkap Juned.

Ujar anggota Dewan dua periode tersebut, untuk menggali dan menentukan pakaian khas daerah melalui proses panjang. Butuh kajian secara multidimensi.

"Kalau memang ada kajian, mana buktinya?,’’ telisi politisi PKB yang menjadi  ketua Komisi III (bidang Pendidikan dan kesra) tersebut.

Akan tetapi, katanya, sejauh ini banyak kalangan yang 'menolak'. 

Juned mengaku pernah menjaring respon warga terkait pakaian khas daerah melalui jejaring sosial facebook. Dari rentetan komentar, nyaris tak ada yang positif.

Seperti salah satu komentar akun facebook milik Saifullah Barnawi. ’’Tambah rambut kuncir panjang dikelabang jadi asyik. Apalagi kalo cara jalannya loncat-loncat sambil kedua tangan diangkat lurus ke depan. Pas banget dengan gaya bajunya,’’. Akun lain Bambang Besser menyebut ’’Bener kuwi klo ketemu orang pake kostum ginian, wajib sapa haiiiyyya. Owe olang mana?’’.

Junaedi mengaku, tanggapan itu dilakukan untuk mengukur nilai kepantasan. ’’Kalau sebagian besar bilang baju ini aneh, kenapa masih saja dipaksakan?,’’ tegasnya.

Anggota Komisi II DPRD Kota Mojokerto Udji Pramono juga menilai aneh dengan model pakaian itu. Saat pakaian khas daerah ini menjadi polemik, ia langsung melakukan klarifikasi ke Disporabudpar.

Ditemui langsung Kadisporabudpar Wiwiet Febriyanto, ia mengaku jika penetapan pakaian khas ini sudah melalui proses panjang. Diantaranya mencari masukan dari sejumlah tokoh masyarakat. ’’Kalau warna cerah, memang iya. Karena warna khas kota adalah orange. Tapi tidak yang seperti ada saat ini,’’ katanya.

Ia pun menilai, pakaian ini terlihat aneh dan tak akan banyak dipakai oleh masyarakat luas. Padahal pakaian khas akan dengan mudah dan disukai oleh masyarakat di daerahnya sendiri. 

Launching PKRKM dilakukan Pemkot menjelang hari jadi Kota Mojokerto ke 97 bulan Juni lalu.
Model pakaian ini dipengaruhi budaya Cina, Arab dan Majapahit.

Motif batik ikan rengkik diambil karena jenis ikan ini merupakan ikan yang hidup di sungai Brantas.

PKRKM untuk pria dipadu songkok encik-encik atau songkok Cing Ho warna hitam dihiasi batik rengkik warna orange. 

Busana pria, model beskap Jawa Timuran. Modifikasi Jawa Timur, Cina dan Arab. Cina diwakili oleh kancing dan kerah sanghai mewakili busana khas Jawa Timur. Kancing berjumlah 5 melambangkan jumlah sila pada Pancasila. Celana warna hitam yang mewakili ciri kemandirian serta kesederhanaan. 

Busana wanita merupakan modifikasi kebaya berenda model encim (cina). Model kebaya Jawa Timur yang mempunyai ciri khas renda dan model kancing dalam. 

Bawahan untuk wanita memakai jarik batik motif rengkik warna orange. (one)

Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved