Sosok Gunawan, Tukang Sablon yang Melenggang Jadi Caleg Terpilih DPRD Kota Mojokerto - SatuJurnal.com | Portal Berita Mojokerto, Jombang, Surabaya, Jawa Timur dan Nasional

Sosok Gunawan, Tukang Sablon yang Melenggang Jadi Caleg Terpilih DPRD Kota Mojokerto

Sosok Gunawan, Tukang Sablon yang Melenggang Jadi Caleg Terpilih DPRD Kota Mojokerto

Gunawan (berkaos merah) ditengah 'relawan gotong royong', Minggu (27/04/2014)
MUHAMMAD GUNAWAN, bukan nama yang populer di mata publik Kota Mojokerto. Namun, pendatang baru di kancah politik daerah mungil dengan dua kecamatan ini hampir dipastikan lolos melenggang menjadi anggota DPRD Kota Mojokerto periode 2014-2019. Berkendara partai Islam, PPP, caleg nomor urut 11 Dapil 1 Prajurit Kulon ini mampu meraup 1.030 suara, unggul setidakya di lima TPS, jauh diatas perolehan suara sejawatnya sesama partai. 

Gunawan, sapaan pria warga Prajurit Kulon Gang 8, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini mengaku, merambah dunia politik praktis lantaran dorongan warga setempat. 

“Sebenarnya saya miris, bahkan pesimis untuk maju sebagai calon anggota legislatif. Utamanya, soal finansial. Sistem perolehan suara terbanyak dalam pileg, dan fenomena tebar pesona plus yang dilakukan para caleg sejak pileg 2009 lalu tentunya menjadi pertimbangan yang sangat realistis kalau saya harus maju. Tapi dorongan tokoh masyarakat dan tetangga yang begitu kuat, menjadi penyemangat saya,” ujar Gunawan, ikhwal memasuki bursa caleg, Minggu (27/04/2014).

Sosok Gunawan, tukang sablon alas kaki  yang ditemui di sebuah tenda berbahan bambu di sebuah lahan kosong Prajurit Kulon Gang 9 yang disebutnya posko ‘relawan gotong royong’ untuk pemenangan dirinya, terkesan sederhana. Pria yang baru melepaskan masa lajangnya setahun silam ini lugas bertutur, tanpa kerja keras para relawan yang notabene tetangganya dan didukung penuh, Sunoto, ketua rukun tetangga di kediamannya, ia tak mungkin mampu menembus bursa caleg yang identik dengan modal besar tersebut. 

“Tanpa dukungan penuh para relawan yang meyakinkan dan membantu saya tanpa pamrih, tipis sekali harapan saya menjadi salah satu caleg terpilih,” aku pria yang menjadi takmir masjid di lingkugannya ini.

Tak jarang, para relawan harus menguras kocek pribadi untuk kegiatan sosialisasi pria berusia 30 tahun yang masih menjadi koordinator Tagana, relawan tanggap bencana tersebut.

“Tidak ada strategi khusus untuk mendulang suara. Apalagi tebar pesona plus. Kebersamaan dan tekad menjadi modal utama bagi relawan. Untuk merangcang strategi memperkuat pundi suara, tidak jarang kita bahas sembari liwetan dari hasil patungan relawan,” ucap Gunawan diamini sejumlah relawan yang tengah berkumpul di posko mereka. 

Sebenarnya pada pileg 2009 lalu ia sudah didorong warga untuk menerobos bursa caleg, tapi kala itu ia masih menjadi anggota panitia pemungutan suara (PPS) di lingkungannya. Dorongan itu menguat lagi begitu kran caleg dibuka. Ia pun akhirnya berada di ruang caleg PPP. “Di partai, kapasitas saya sebagai anggota saja,” imbuh Gunawan.

Meski nantinya masuk dalam sistem kelembagaan legislatif dengan beragam kepentingan, namun alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Mojopahit Mojokerto ini menyatakan akan membawa suara dan harapan warganya yang sebagian besar bermatapencaharian di UMKM alas kaki. “Sentuhan-sentuhan langsung yang bisa dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat tentunya akan terus saya usung. Ada harapan warga yang akan saya perjuangkan untuk diwujudkan melalui pintu Dewan nantinya,” tukas dia. 

Janji yang dicetuskan ditengah obralan gayeng bersama relawan gotong royong yang terbentuk karena keinginan berjamaah itu diakui Gunawan sebagai amanah. “Memang warga berkeinginan dan berharap agar Gunawan, pemuda yang ringan tangan dan tidak neko-neko ini menjadi penyambung harapan warga,” ucap Samiadi, wakil ketua rukun tetangga di kediaman Gunawan. 

Samiadi pun berkilas balik soal hiruk pikuk pileg hingga mengantar Gunawan merebut kursi Dewan. “Kalau iming-iming dan rayuan dari caleg lain tidak sedikit jumlah dan ragamnya. Semua caleg yang ‘masuk’ ke wilayah kami, kami terima dengan baik. Pemberian mereka pun kami terima. Tapi kalau diembel-embeli agar memilih mereka di bilik suara, itu soal lain. Toh kami tidak meminta mereka datang. Karena kami kan punya jago sendiri yang lebih pas,” kelakarnya. (one) 


Artikel terkait lainnya

Baca juga artikel ini

Copyright © SatuJurnal.com | Portal Berita Mojokerto, Jombang, Surabaya, Jawa Timur dan Nasional