Mojotirto Festival 2022 Jadi Momentum Kebangkitan Ekonomi - SatuJurnal.com | Portal Berita Mojokerto, Jombang, Surabaya, Jawa Timur dan Nasional

Mojotirto Festival 2022 Jadi Momentum Kebangkitan Ekonomi


Mojokerto-(satujurnal.com)

Mojotirto Festival 2022 diharapkan kembali menggairahkan sektor ekonomi di Kota Mojokerto. Melalui kalender festival tahunan Pemerintah Kota Mojokerto di moment Hari Air Sedunia setiap tanggal 22 Maret yang digelar di bantaran sungai Kotok, dibawah jebatan Rejoto, wilayah Kecamatan Prajurit Kulon, masyarakat tidak saja disuguhi keelokan ragam budaya bahari Mojopahit , namun juga menikmati aneka produk UMKM.


Harapan itu dicetuskan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari di hadapan Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian PANRB Diah Natalisa mewakili Menteri PANRB Tjahjo Kumolo dan jajaran Pemprov Jawa Timur serta unsur Forkompimda yang hadir dalam Mojotirto Festival 2022, Selasa (22/3/2022). 

“Setiap event-event budaya yang melibatkan seluruh pelaku usaha ekonomi mikro kecil dan menengah akan terus kami gencarkan. Meskipun saat ini protokol kesehatan masih tetap harus kita laksanakan,” kata Wali Kota.


Ning Ita, sapaan karib inisiator Mojotirto Festival tersebut mengungkap, kurun satu tahun, program inkubasi UMKM telah melahirkan ribuan pelaku usaha baru. Mereka mendapatkan pendampingan hingga membentuk koperasi dan bantuan modal usaha. 

“Melalui upaya keras kolaborasi dan sinergi, maka ekonomi Kota Mojokerto bisa tumbuh positif 3,69. Harapan kami ke depan ekonomi bisa kembali pulih seperti sebelum pandemi terjadi. Tentu ini dibutuhkan sebuah upaya yang keras untuk terus berkolaborasi dan bersinergi dengan seluruh pihak,” sergahnya.

Dikatakan Ning Ita, sapaan karib Wali Kota Ika Puspitasari, Mojotirto Festival merupakan even budaya yang masuk dalam kalender festival tahunan Pemerintah Kota Mojokerto. Seluruh pelaku seni, budaya lembaga pendidikan, masyarakat, pemerintah, stake holder terlibat di dalam setiap event ini. 

“Rangkaian kegiatan dalam Mojotirto Festival yang diselenggarakan tepat pada saat peringatan Hari Air Sedunia tanggal 22 Maret setiap tahunnya ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas berlimpahnya air yang ada di Kota Mojokerto ini sepanjang tahun tidak pernah kekurangan,” ujarnya. 

Dengan adanya 7 aliran sungai besar yang melintasi kota kami, kata Ning Ita lebih lanjut, kami selalu memiliki air sepanjang tahun. Dan kota Mojokerto tidak pernah mengalami musibah banjir akibat meluapnya sungai sungai yang melintasi kota kami. Maka rasa syukur ini  kami wujudkan dalam bentuk penyatuan, kolaborasi, sinergi seluruh elemen masyarakat dalam bentuk festival Mojotirto. 

“Dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan setiap tanggal 22 Maret ini kami melakukan berbagai kegiatan. Bagaimana menjaga ekosistem sungai agar tetap menjadi sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat Mojokerto dan sekitarnya. Kami menjaga bagaimana aliran sungai ini selalu bersih dan bisa dimanfaatkan dengan baik untuk masyarakat kami,” imbuh Ning Ita.

Sementara melengkapi kawasan Sungai Kotok yang diplot menjadi kawasan wisata bahari Majapahit, selain dibangun gedung Taman Budaya, sepanjang bantaran sungai ini ujar Ning Ita sudah tertanam sedikitnya 11 ribu pohon jeruk. “Dan insya Allah dalam satu tahun pohon jeruk ini akan siap panen dan dinikmati sebagai wisata agro di Kota Mojokerto.

Ning Ita juga menyampaikan, bahwa ada 7 endemi ikan yang hidup di aliran sungai yang ada di Kota Mojokerto. Maka di setiap event Mojotirto Festival, akan dilakukan tabur benih ikan dalam rangka menjaga ekosistem air sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menambah kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat sekitar. 

“Semoga melalui berbagai event budaya ini akan menjadi penyemangat bagi masyarakat Mojokerto, bagi seluruh pihak yang terlibat, bahwa Spirit of Majapahit adalah kekuatan besar bagi kita bersama untuk terus menjadi bangsa yang tangguh, untuk terus bersatu bergotong-royong dalam rangka membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, yang mampu menghadapi berbagai bentuk tantangan yang terjadi,” tukasnya. 

Sementara itu, larung banyu atau menghanyutkan air yang berasal dari tujuh sumber mata air menjadi puncak ritual dalam konsep festival yang memadukan unsur lingkungan, budaya lokal, edukasi, entertain yang diinisiasi Wali Kota Ika Puspitasari tahun 2019 itu. 

Sejumlah penari membawakan Tari Bedoyo Putri Kusumo.menyambut Iring-iringan pembawa ‘Tirto Suci’ yang bergerak menuju selatan dermaga sungai Kotok.

Makna simbolik Tari Bedoyo Putri Kusumo.ini muncul melalui tema, gerak dan musik gamelan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat-Nya melalui sumber-sumber mata air yang melimpah dan tidak pernah surut. 

Para penari menyerahkan Tirto Suci kepada unsur Forkompimda dengan prosesi Umbul Dungo Mojotirto sebelum dilarung.

Umbul Dungo merupakan ritual memanjatkan doa kepada Tuhan agar dibebaskan dari segala bahaya dalam bentuk apapun. Umbul yang artinya menghaturkan atau menaikkan dan Dungo yang berarti do'a dalam bahasa Jawa bertujuan untuk menaikkan do'a-do'a untuk Tuhan YME. 

Pesan dari prosesi ini adalah bagaimana masyarakat mampu melanjutkan tradisi konservasi yang telah terbangun nyata sejak lama.

Prosesi “Umbul Dongo Mojotirto”, dilanjutkan tabur benih ikan. Sesaat setelah tabur benih ikan, perahu naga (PODSI) melewati dermaga. Penari Putri Kusumo serta Liang Liong ikan menjadi background dari prosesi tabur benih ikan. (one/adv)


Artikel terkait lainnya

Baca juga artikel ini

Copyright © SatuJurnal.com | Portal Berita Mojokerto, Jombang, Surabaya, Jawa Timur dan Nasional