Headlines :
Home » , » Tony Wardono, Temukan E.Coli Nol Setelah Bereksperimen 1.620 Kali

Tony Wardono, Temukan E.Coli Nol Setelah Bereksperimen 1.620 Kali

Written By Satu Jurnal on Selasa, 11 November 2014 | 00.24

BERGELUT  dengan limbah sampah organik bagi Tony Wardono, pemilik formula cair yang mampu menetralisir bau sampah menyengat, kini menjadi dunianya.

Laki-laki warga Kota Mojokerto yang mengklaim sebagai penemu formula hasil proses fermentasi berbagai macam buah-buahan dan serat yang menghasilkan bakteri-bakteri menguntungkan, tak berbau dan berfungsi sebagai penetral semua jenis sampah, baik sampah herbal maupun kotoran ini mengaku harus melakoni hidup ‘untuk sampah’ sebelum akhirnya menemukan pestisida organik yang sempat ia tawarkan ke berbagai instansi pemerintah di beberapa daerah ini.

“Upaya saya ini merupakan bagian dari kampanye peduli sampah,” kata Tony, sapaan akrab Tony Wardono, Senin (10/11/2014).

Sarjana ekonomi yang kini fasih mengurai soal manfaat sampah ini bertutur, awal ‘bersinergi’ dengan sampah organik limbah rumah tangga itu tatkala berkenalan dengan sarjana asal negara Jerman di kota Malang, sebelas tahun silam.  

Semula ia ragu dengan upaya pria bule yang dikenalnya dan mengajak melakukan eksperimen untuk menemukan formula e.coli nol. “Saya kian tertarik dan terinspirasi dengan ketekunan pria Jerman menenmukan formula berkadar e.coli nol.

Sepeninggalan pria Jerman, ia masih terus bereksprimen. Tak tanggung-tanggung, eksperimen yang ia lakukan, dari detik ke detik sudah tercatat 1.620 kali.

“Saya catat benar, setiap botol eksperimen fermentasi dari tanggal, jam dan detik hingga hasil yang muncul,” ujar pria yang bermukim di Suratan IV, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto tersebut mengawali kisahnya berkutat dengan beragam benda organik.

 “Produk bakteri yang saya hasilkan bersifat netral, e.coli Nol. Tampaknya memang mustahil, tapi kegunaannya sudah teruji. Yang pasti, produk saya mampu mengatasi berbagai jenis limbah dengan menghilangkan aroma tak sedap yang selama ini merisaukan masyarakat sekitar. Bukan hanya itu, dengan formula cair temuan saya, limbah akan menjadi pupuk pestisida organik,” paparnya.

Memperkuat hasil temuannya, tahun ujung tahun 2012 lalu ia mengujilabkan lactobacillus temuannya di Labkesda Kota Mojokerto. Hasil uji menyebutkan, lactobacillus miliknya  mengandung e.coli Nol. “Ini hasil uji lab Labkesda,” ujar Tony seraya menunjukkan hasil analisa di lap milik Pemkot Mojokerto tersebut.

Sejatinya, ujar Tony, jerih payah menemukan formula menetralisir sampah didedikasikan untuk keberlanjutan lingkungan.
“Dengan lactobacillus produk saya, kita bisa mendaur ulang kotoran yang berasal dari hewan dan sisa-sisa makanan menjadi bokasi yang berfungsi sebagai pupuk kandang,” katanya.

Pria yang mengaku sudah menjelajah hampir antero nusantara untuk menggandeng mitra mengatasi masalah limbah dan sampah organik masih terus memperkenalkan karya temuannya.

Beberapa kali pula ia berupaya menggandeng Pemkot Mojokerto melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) untuk mengolah sampah dengan metode yang ia terapkan dengan formula andalannya. “Sempat ada respon, tapi belum ada kelanjutan,” akunya.

Tak hanya untuk pengolahan sampah, produk Tony ini juga bisa untuk terapi kesehatan manusia. “Bisa dikonsumsi untuk terapi kesehatan. Beragam penyakit bisa disembuhkan dengan hasil temuan saya,” ujar dia seraya menyebut sejumlah nama dan pejabat di pusat pemerintahan yang sudah memanfaatkan produknya untuk terapi penyembuhan berbagai penyakit. (one)




Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved