Headlines :
Home » » Loka Karya Multi Bintang – UNIDO : Pemerintah, Swasta dan LSM Bersatu Melestarikan Air di DAS Brantas

Loka Karya Multi Bintang – UNIDO : Pemerintah, Swasta dan LSM Bersatu Melestarikan Air di DAS Brantas

Written By Satu Jurnal on Selasa, 04 Oktober 2016 | 21.38

Ketersediaan air berkualitas yang merupakan salah satu sumber daya alam penting bagi manusia sangat terbatas jumlahnya terlebih di daerah padat penduduk seperti di pulau Jawa.  Daerah Aliran Sungai Brantas adalah salah satunya dan merupakan area tangkapan air prioritas di Jawa Timur. 

Diperlukan langkah kolaboratif antara para pemangku kepentingan untuk menjamin ketersediaan air berkualitas secara berkelanjutan bagi masyarakat dan industri.

Salah satu hulu DAS Brantas berada di Sungai Cumpleng, dengan area tangkapan diatas Gunung Welirang, sangat berpotensi besar sebagai penyedia air bersih.

PT. Multi Bintang Indonesia Tbk (Multi Bintang) sebagai salah satu perusahaan minuman pertama di Indonesia dan berusia 85 tahun mempunyai komitmen dalam mengembangkan bisnis berkelanjutan terutama akan pentingnya kelestarian dari air.

Multi Bintang mempunyai beberapa aktifitas seperti pengurangan konsumsi air di kedua fasilitas produksi di Tangerang, Banten dan Sampang Agung, Mojokerto. Serta melakukan beberapa inisiatif untuk penyeimbangan dan edukasi air seperti penanaman pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan lereng Gunung Welirang, penanaman bambu guna mendukung ekowisata di Jolotundo, Jawa Timur, edukasi air kepada warga di Tangerang dan Mojokerto melalui Biopori dan Green School Project bersama SMP 2 Kutorejo yang berhasil mendapatkan penghargaan Adiwiyata di provinsi Jawa Timur.

Atas inisiatif dan komitmen terhadap pelestarian air, baru-baru ini juga Multi Bintang mendapatkan penghargaan Sustainable Business Awards 2016 dalam kategori Water Management.

Berangkat dari DAS Brantas yang merupakan tumpuan ketersediaan air berkualitas bagi masyarakat dan dunia usaha di daerah Jawa Timur, Multi Bintang berkolaborasi dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menggelar loka karya yang di Batu, Malang, 4-6 Oktober 2016 dengan melibatkan 30 pemangku kepentingan (stakeholders) terkait, yakni Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian, Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Pemkab Mojokerto, industry, BUMN, BUMD (PDAM Kabupaten Mojokerto, maupun swasta diantaranya Sosro, Ajinomoto, SAI, Cargill, Sopanusa grup, LNK, dan lembaga swadaya masyarakat, diantaranya PPLH Seloliman yang fokus pada program konservasi sumber daya alam selama  lebih dari 20 tahun  di Indonesia.

“Usaha kami sebagai pihak swasta jika dilakukan secara perseorangan akan mempunyai dampak yang sangat kecil. Dibutuhkan kolaborasi dan aksi bersama dengan para pemangku kepentingan untuk melestarikan air khususnya di wilayah sub DAS Brantas, di lereng Gunung Welirang. Karena hal inilah Multi Bintang bekerja sama dengan UNIDO dan mengajak pada pemangku kepentingan untuk bersama-sama mencari solusi untuk melestarikan air” kata Chew Boon HeSupply Chain Direktur Multi Bintang, dalam siaran pers yang diterima satujurnal.com, Selasa (4/10/2016).  

UNIDO adalah sebuah organisasi bagian dari PBB yang mempunyai mandat utama untuk mempromosikan pembangunan industri berkelanjutan dan inklusif atau yang disebut “Inclusive Sustainable Industrial Development (ISID)”, melihat bahwa kerja sama para pemangku kepentingan dan membangun yang solid dibutuhkan untuk mencapai hasil bagi banyak pihak.

Di akhir loka karya inidiharapkan para pemangku kepentingan dari lintas sektor dapat memiliki pemahaman dan visi yang sama terhadap permasalahan dan solusi yang dapat dilakukan bersama untuk menjamin kelestarian dan meningkatkan ketahanan pasokan air masa depan khususnya di DAS Brantas.

Sungai Cumpleng merupakan salah satu sub DAS Brantas, yang berbatasan langsung dengan lereng Gn. Welirang, sebagai area tangkapan air. Dimana sungai ini memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat di wilayah yang dilewatinya, diantaranya digunakan sebagai sumber air bersih, sumber air irigasi pertanian, sarana transportasi, sarana mata pencaharian (ikan, cacing, dan lain-lain), sarana pembuangan air limbah, dan sebagai keseimbangan ekosistem. Namun demikian, kondisi Sungai Cumpleng saat ini perlu mendapatkan perhatian penting karena kuantitas, kualitas, dan kondisi ekologis di perairan maupun bantarannya sudah mendapatkan tekanan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Menurut Soemarno, Kabid Pemantauan dan Pemulihan Lingkungan Hidup, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto, upaya pengelolaan telah berulang kali dirumuskan, baik di tingkat pemerintah pusat, provinsi, maupun tingkat kabupaten.

Khusus di tingkat kabupaten, memfokuskan upaya penanganan terkait aspek kualitas dan kuantitas. Khusus mengenai kuantitas, permasalahan yang sering muncul adalah penurunan debit akibat matinya sumber mata air, berkurangnya tutupan lahan, banjir, penjualan air secara illegal, hingga aktivitas penambangan galian c secara illegal juga turut memberikan dampak,” ujarnya.

Muzakky, Program Manager PPLH Seloliman, menyampaikan bahwa penanganan sungai Cumpleng merupakan bagian dari pengelolaan DAS Brantas, yang mempunyai dampak ekologis sangat penting bagi masyarakat dan lingkungan.

Kompleksnya persoalan yang muncul, memerlukan upaya pengelolaan pendekatan hulu-hilir, melibatkan multi pihak dan lintas daerah. Merestorasi kawasan hulu sungai Cumpleng yang merupakan daerah tangkapan air (water catchment area) dengan menanam dan memelihara pohon merupakan langkah nyata dalam mempertahankan perannya sebagai pengatur tata air ke hilir.

Sementara Rene van Berkel, staff perwakilan UNIDO di Indonesia menyatakan bahwa hanya dengan “Inclusive and Sustainable Industrial Development” (ISID) yang menjadi program acuan UNIDO akan memberikan kesempatan untuk mendapat kebaikan (benefits) dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa. 

‘ISID dilakukan secara bahu mambahu dengan tingkat industrialisasi yang tinggi namum tetap menghindari dari pengrusakan lingkungan hidup dan dampak sosial akibat pembangan ekonomi ini,” ujarnya.

UNIDO, kata Rene van Berkel lebih lanjut, telah banyak menjalin mitra dan kerjasama dengan sektor swasta dan industri yang peduli lingkungan untuk lebih menalankan agenda ISID ini, termasuk dan paling utama dengan HEINEKEN International B.V. sebagai industry minuman dunia yang berkomitment tinggi terhadap keberlanjutan.

Selain loka karya di Batu, Malang, kegiatan serupa bakal digelar pada 14-16 September 2016 dengan para pemangku kepentingan terkait untuk melestarikan air di DAS Cia sadane, Jawa Barat. Kedua loka karya ini merupakan bagian dari rangkaian loka karya yang pertama kali diselenggarakan di Asia, setelah sebelumnya dilaksanakan di Nigeria dan Ethiopia oleh HEINEKEN Group. (one)



Share this article :

0 komentar:

Berikan komentar posistif Anda.

Mohon jangan melakukan SPAM !

 
Copyright © 2012 SatuJurnal.com - All Rights Reserved